18 Februari 2010

OpenOffice.org 3.2.0 untuk semua client (2)

Pake OpenOffice.org 2.4.1 dari Ubuntu secara bagus terintergrasi Ubuntu 8.04 LTS. Tentunya pemaketannya udah dicustom sedemikian rupa. Sehingga bener-bener "look and feel" Ubuntu (dalam hal ini Ubuntu gunakan Gnome). Kalau kita ambil OpenOffice.org 3.2.0 dari website OpenOffice.org, ada beberapa perbedaan. Yang jelas keliatan sejak awal nih:
  1. Splash screen
  2. Registration wizard
  3. Icon-icon di toolbar
  4. Ukuran icon di toolbar
  5. Kotak dialog File - Save/Open
Dan mungkin banyak lagi. Cuman sengaja kita cek yang jelas aja nih. Yang bener-bener dirasakan perbedaan.

Splash screen

Pasti tau ini kan? Splash screen dari OpenOffice.org 2.4.1 berwarna coklat. Satu tema dengan Ubuntu themes. Coba liat ini:



Ini lokasi filenya:
/usr/lib/openoffice/program/openintro_ubuntu_sun.bmp
/usr/lib/openoffice/program/openabout_ubuntu_sun.bmp

Sedangkan OpenOffice.org 3.2.0 yang masih original berwarna biru. Liat ini:



Ini lokasinya:
/etc/openoffice.org3/program/intro.bmp
/etc/openoffice.org3/program/about.bmp

Biar keliatan menyatu, ganti aja dengan versi lama. Lalu rubah aja angka 2.4 menjadi 3.2 dengan Gimp :-D

Kotak dialog File - Save/Open

Setelah kita test di MIS team selama 1 minggu, lumayan bagus and nggak ktemu masalah kestabliannya. Cuman karena paket ini bukan dari repository Ubuntu, tentunya harus di configure untuk memberi kemudahan disisi client. Yang paling terasa adalah kotak dialog File -Save/Open. Kotak dialog OpenOffice.org 3.2.0 seperti berikut:



Sedangkan OpenOffice.org 2.4.1 (original dari Ubuntu) menggunakan kotak dialog ini:



Karena banyak Linux client gunakan NFS server, dan udah termount (mapping) otomatis setiap login (link), tentunya kotak dialog yang lama (kotak dialog versi Gnome) akan lebih memudahkan user. Dan juga, kita nggak pernah sosialisasi folder / (slash) bla bla bla. Terlalu technical untuk user yang hanya mau klik klik klik. Jadi solusi untuk memudahkan user, ya OpenOffice.org 3.2.0 harus gunakan kotak dialog Gnome.

Sederhana saja: dari Tools -> Options -> General, non aktifkan saja option "Use OpenOffice.org dialogs". Itu kalau per-user setting. Kalo komputernya multi user, ada baeknya di rubah di system setting. Coba buat file ini:

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<oor:component-data xmlns:oor="http://openoffice.org/2001/registry" xmlns:xs="http://www.w3.org/2001/XMLSchema" oor:name="Common" oor:package="org.openoffice.Office">
<node oor:name="Misc">
<prop oor:name="UseSystemFileDialog" oor:type="xs:boolean">
<value>true</value>
</prop>
</node>


Dan simpan ke dalam /etc/openoffice.org3/share/registry/data/org/openoffice/Office/Common.xcu. Kalau takut salah tulis, coba download dari dropbox gue ini: link

Registration wizard

Satu hal lagi yang terasa menyebalkan adalah "Registration wizard" yang muncul untuk pertama kali penggunaan. Untuk memudahkan user, kita akan disable hal ini. Solusinya ada juga. Coba download addonnya dari link wikinya ini.

/opt/openoffice.org3/program/unopkg add --shared DisableFirstStartWzd_ooo32.oxt

Ok. Sampe disini. Esok kita sambung bagian terakhirnya dari artikel ini.


17 Februari 2010

OpenOffice.org 3.2.0 untuk semua client (1)

Di sini sebagaian user mulai gunakan Ms.Office 2003. Karena desakan dari luar, beberapa user dari group itu, harus di upgrade ke Ms.Office 2007. Cuman sedikit sih. Nggak sampe puluhan. Terutama dalam hal ini pengguna notebook pribadi. Sedangkan sebagaian besar menggunakan OpenOffice.org. Baik Linux client (Ubuntu 8.04 LTS) masih gunakan OpenOffice.org 2.4.1 dan sebagaian Windows user gunakan OpenOffice.org 3.0. Jadi bisa dibayangkan tuh dalam network kita ada:
  1. Ms.Office 2007 SP2
  2. Ms.Office 2003 SP3
  3. OpenOffice.org 2.4.1 (for Linux bawaan Ubuntu 8.04 LTS)
  4. OpenOffice.org 3.0 for Windows
Karena pertukaran dokumen dalam network sangat besar, bisa dikata faktor kompatibilitas dokumen adalah hal yang menentukan. Dan seperti biasa, karena banyak pihak (terutama diluar office kita) yang gunakan Ms.Office 2007 sebagai patokan, tentunya ini jadi tuntutan semua user untuk dapat membukanya. Mereka maunya membuka dokumen dari Ms.Office 2007 sesempurna mungkin. Nah loh :-D

Sebenernya gue udah nguber hal ini ke repository "Ubuntu Backports" . Sayangnya Canonical gunakan policy yang beda untuk hal ini. Ubuntu LTS hanya kasih update security saja (3 tahun untuk versi desktopnya dan 5 tahun untuk versi server). Dan OpenOffice.org adalah paket yang lumayan komplek untuk masuk ke "update security". Akhirnya... tak ada update official OpenOffice.org versi terbaru untuk LTS. Terus terang gue kecewa. Tapi itulah pertimbangan mereka. Padahal untuk keperluan kerja sehari-hari, OpenOffice.org versi terakhir adalah paket yang vital untuk tetap menjaga kompatibilitas dengan Ms.Office.

Emang sih ada PPA openoffice-pkgs di Launchpad. Tapi udah nggak support Ubuntu 8.04 LTS. Lagian gue coba ketemu beberapa bug yang bener-bener parah. Makanya gue lebih suka upgrade official dari Canonical yang tentunya akan lebih stabil. OK, lupain deh :-D Jadi solusi satu-satunya gunakan DEB paket OpenOffice.org dari website OpenOffice.org.

Pertimbangan laen lagi, support ke versi berikutnya dari Ubuntu 10.04 LTS yang bakal di release bulan April 2010. Setelah baca "new features" dari versi terakhir, sepertinya OpenOffice.org 3.2.0 lumayan bagus menghandle Ms.Office dokumen. Pivot table dari Ms.Office file bisa dibuka. File Ms.office berpassword juga bisa dihandle. Dan laen sebagainya yang gue rasa akan sangat bagus untuk semua client. Yang mana akhirnya, Ubuntu client lama (8.04 LTS) dan baru (10.04 LTS) nantinya gunakan versi yang sama.

Setelah install manual di desktop gue (Ubuntu 8.04 LTS), OpenOffice.org 3.2.0 sepertinya layak dipake semua client. Baek yang gunakan Linux maupun gunakan Windows. So.. langkah berikutnya adalah, membuat script yang bisa menyederhanakan proses upgrade OpenOffice.org di Linux client. Tunggu aja deh.





23 Desember 2009

Firestarter dan openVPN client

Notebook gue pake firewall instant. Tentunya pake Firestarter aja. Tinggal klik klik klik udah ready secure firewall untuk personal. Dan langsung ready di gunakan. Keren bukan? Sapa bilang linux susah??? :-D

Sekarang giliran VPN-nya. Karena kebutuhan personal jadi meninggi, gue pake ADSL. Lumayan kenceng. Tapi ente tau sendiri deh. Kerjaan di network terpisah, tentu jadi ribet. Terutama kalo mau mengakses client dan server internal office nggak semudah dulu. Sekarang notebook gue di luar network office. Jadi VPN sangat menunjang banget.

Setelah setting openVPN di network-manager, dan berhasil koneksi ke VPN server office. Rupanya nggak ada hasil real. Bener koneksi, tapi ping ke server office nggak berhasil. Ternyata Firestarter belum ndukung VPN client. Komunikasi VPN-nya jadi ditolak. Setelah cek sana-sini, akhirnya nemu solusi simple aja.

Nggak perlu rubah setting GUI di Firestarter. Cukup jalankan ini saja:

sudo echo "iptables -A INPUT -i tun+ -j ACCEPT" >> /etc/firestarter/user-post
sudo echo "iptables -A OUTPUT -o tun+ -j ACCEPT" >> /etc/firestarter/user-post


Lalu restart service Firestarter:

sudo service firestarter restart


Coba lagi udah ok sekarang.


15 Desember 2009

Buat system yang tahan virus

Bukan masalah Linux. Tapi network dengan banyak OS, disini kelihatan manfaat Linux dan kehandalannya terhadap virus. Dan karena network gue disini ada banyak juga Windows client, jadi akan keliahatan deh gemana gue menghandle ke duanya. Eh 3 deh. Mac OS juga ada 2 notebook client :-D

Sebenernya nggak susah sih bikin sistem yang tahan virus. Asal kita tau sumbernya dari mana, lalu kita tahan atau bentengi disitu. At least, umumnya saat ini ada 3 sumber yang plaing sering jadi penyebaran virus (umumnya berefek pada Windows client):
  • Email
  • Web
  • USB flashdrive
Dari ke 3 nya sumber diatas, mungkin paling simple di bagi lagi jadi 2 aja:
  • External/Internet (Email dan web)
  • Internal (USB flashdrive dan network local)
OK. Sekarang hal ini akan kita pilah lagi lebih jauh.

Pertahanan disisi Server
  1. Virus dari web: usahakan buat proxy server (squid misalnya) dan kawinkan dengan antivirus (HAVP+clamav). Sehingga semua web request akan di scan dengan antivirus terlebih dulu.
  2. Virus dari email: usahakan buat mail server (postfix misalnya) dan kawinkan dengan antivirus juga antispam (amavis+clamav+spamassin)
  3. Gateway pake firewall: Tutup semua port!!! Dan buka yang diperlukan saja. Kalo ada penggunaan mail server diluar office, ada baeknya di intercept dengan antivirus.
Dari ke 3 hal diatas, berusahalan untuk memblok file2 versi M$ yang beresiko bervirus (EXE, COM, PIF, SCR, dll). Restriction ini lumayan ketat emang. Tapi akan sangat bermanfaat mengurangi kerja server dan antivirusnya. Karena tanpa banyak pertimbangan, file2 yang beresiko itu langsung di TOLAK !!!

Pertahanan disisi Client

Linux client
  1. Jangan gunakan root (atau level root/administrator). Berilah user level aja. Semua software di Linux bisa jalan dengan user level saja. It's perfect ;-)
  2. Always update system. Kalo sudah mulai banyak Linux client, kalo perlu sediakan repo sendiri. Jadi updatenya lebih cepet.
  3. Hindari penggunaan Wine !!!
Windows client (more complicated)
  1. Jangan gunakan administrator (atau level poweruser/administrator) untuk kerja sehari-hari. Terus terang hal ini rumit di Windows. Karena banyak skali software yang hanya berfungsi jika running dengan level administrator. Tapi .... itu bukan pilihan. Alias harus dihindari !!! :-p
    Kalo software nggak mau jalan di level user, coba gunakan utility Steel RunAs. User tetep harus kerja di level user, dan software bisa running dengan level admin. No choice on Windows. Paling nggak, virus/spyware/trojan nggak bisa langsung terintall lagi (karena user kan nggak pake level admin lagi) :-p
  2. Disable autorun/autoplay di setiap computer. Ini akan kurangin virus dari USB flashdrive. Coba gunakan software USBVaccine untuk hal ini.
  3. Windows update penting banget. Kalo mulai banyak Windows client, saatnya mikirin bikin WSUS server sendiri. Keuntungannya, loe bisa pantau mana client yang update and mana yang nggak mau update (alias ngambek). Windows client yan nggak terupdate, beresko jadi zombie. Ini paling gampang tertular virus via network (seperti conficker) !!!
  4. Install antivirus di semua Windows client. Dan harus selalu update juga. Kalo mulai banyak Windows client, saatnya mikirin antivirus server sendiri.
Gak jamin 100% Windows akan aman dr virus. Tapi cara ini bisa memberikan hasil nyata. Udah lebih 1 tahun disini gak ada virus yg lolos ;-)

Oya, kebutuhan network bisa beda. Dan solusi bisa disesuaikan lagi. Itupun kita harus slalu mempelajari virus dan antivirusnya. Kalo ada perkembangan baru, sistem kita harus disesuaikan untuk mengcover hal terbaru itu.

OK, pren. Good luck.


31 Oktober 2009

Beresin Usplash yang nggak berfungsi

Notebook bos mendadak di kirim ke ruangan gue. Nggak ada yang aneh sih. Ternyata dia nggak terima gara-gara proses booting Ubuntu 9.04 muncul text. Rupanya booting graphicnya nggak berfungsi. Nggak jelas awalnya gemana, tapi dia mau proses booting ke GUI lagi.

Problemnya di Usplash. Abis booting dengan serentetan text, setelah itu muncul menu login Gnome (GDM). Jadi sebenernya bukan problem yang gede. Cuman namanya user baru, maunya booting Ubuntu harus pake GUI semua. OK lah. Gue coba beresin hal ini.

Setelah obok-obok internet, ternyata hal ini nggak rumit diselesaikan. Coba ikutin aja cara ini:
  1. Pastikan Ubuntu telah terupdate dengan baek.
  2. Lakukan ini di terminal:

    sudo blkid

  3. Cek isi file /etc/fstab dan pastikan "swap" menggunakan UUID yang sama dari hasil no.2 di atas.
  4. Cek isi files /etc/initramfs-tools/conf.d/resume dan pastikan menggunakan UUID yang sama dari hasil no.2 di atas.
  5. Update initrd.img file dengan cara:

    sudo update-initramfs -u

  6. Terakhir restart Ubuntu untuk tau hasilnya.
Goodluck, pren