Tampilkan postingan dengan label ubuntu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ubuntu. Tampilkan semua postingan

15 Januari 2011

Wireless adapter Ralink RT3090PCIe di Axioo Neon CLW 3522 dengan Ubuntu

Seperti Ubuntu 10.04LTS (lucid) belum juga mengenali adapter wireless ini. Tapi yang butuh, gampang aja. Tambahkan aja PPA Markus Heberling. Karena sudah menyediakan driver rt3090 disitu. Nama paket DEB nya: rt3090-dkms. Dijamin mudah installnya. Cek aja langsung ke:

https://launchpad.net/~markus-tisoft/+archive/rt3090

Tapi Ubuntu 10.10 (maverick), belum ada paketnya disitu. Sialnya maverick akan selalu freeze sehabis booting. Gara-gara wireless adapter ini saja yang dikenali sebagai module "rt2800sta". Dan sampai detik ini belum ada solusi resmi dari Ubuntu.

Bisa saja sih compile driver dari situs resminya. Cuman sepertinya ada kendala. Dan solusi simple ini nggak sengaja ditemukan. Booting aja notebook pake LiveCD Ubuntu 10.04LTS. Download firmwarenya dari situs resminya, extract dan simpan ke /lib/firmware/rt3090.bin tentunya ke harddisk (bukan di LiveCD). Restart dan nikmati wireless bisa bekerja dengan lancar sekarang.

Oya, Meego juga bisa diselesaikan dengan cara ini :-)

05 Desember 2010

Sound onboard ALC887 di motherboard Gigabyte H55M-S2 tidak berfungsi pada Ubuntu 10.10

PC baru coba install Ubuntu 10.10. Semua lancar banget. Kecuali satu ada yang aneh. Tak pernah ada suara aja :-D
Karena Ubuntu menggunakan Alsa sound system, simple saja untuk tahu sound chipnya:
$arecord -L
Dan berikut hasilnya:
default
pulse
    Playback/recording through the PulseAudio sound server
front:CARD=Intel,DEV=0
    HDA Intel, ALC887 Analog
    Front speakers
surround40:CARD=Intel,DEV=0
    HDA Intel, ALC887 Analog
    4.0 Surround output to Front and Rear speakers
surround41:CARD=Intel,DEV=0
    HDA Intel, ALC887 Analog
    4.1 Surround output to Front, Rear and Subwoofer speakers
surround50:CARD=Intel,DEV=0
    HDA Intel, ALC887 Analog
    5.0 Surround output to Front, Center and Rear speakers
surround51:CARD=Intel,DEV=0
    HDA Intel, ALC887 Analog
    5.1 Surround output to Front, Center, Rear and Subwoofer speakers
surround71:CARD=Intel,DEV=0
    HDA Intel, ALC887 Analog
    7.1 Surround output to Front, Center, Side, Rear and Woofer speakers
dmix:CARD=Intel,DEV=0
    HDA Intel, ALC887 Analog
    Direct sample mixing device
dmix:CARD=Intel,DEV=2
    HDA Intel, ALC887 Analog
    Direct sample mixing device
dsnoop:CARD=Intel,DEV=0
    HDA Intel, ALC887 Analog
    Direct sample snooping device
dsnoop:CARD=Intel,DEV=2
    HDA Intel, ALC887 Analog
    Direct sample snooping device
hw:CARD=Intel,DEV=0
    HDA Intel, ALC887 Analog
    Direct hardware device without any conversions
hw:CARD=Intel,DEV=2
    HDA Intel, ALC887 Analog
    Direct hardware device without any conversions
plughw:CARD=Intel,DEV=0
    HDA Intel, ALC887 Analog
    Hardware device with all software conversions
plughw:CARD=Intel,DEV=2
    HDA Intel, ALC887 Analog
    Hardware device with all software conversions
Solusinya nggak perlu nunggu Ubuntu versi terbaru lagi (yang akan menyertakan Alsa terbaru yang udah langsung mengenali sound chip ini). Langsung aja tambahkan 2 bari berikut ke dalam file /etc/modprobe.d/alsa-base.conf:
alias snd-card-0 snd-hda-intel
options snd-hda-intel model=auto
Restart dan akhirnya bisa denger suara.

19 Februari 2010

OpenOffice.org 3.2.0 untuk semua client (3)

Karena ada banyak skali client, harus dibikin script untuk memudahkan pihak MIS mengupgradenya. Dan kita udah gunakan NFS server. Jadi semuanya cukup disimpan di NFS server. Folder letak OpenOffice.org di NFS server, dalam hal ini kita udah mount (mapping) ke /nfsserver/software/openoffice.org.
  1. Siapin DEB format dari OpenOffice.org 3.2.0
    Download saja dari link ini dan dan extract ke folder itu
    Misal:
    /nfsserver/software/openoffice.org/OOO320_m12_native_packed-1_en-US.9483/
  2. Siapain addon "disable registration wizard" dari link ini dan simpan di folder yang sama
    Misal:
    /nfsserver/software/openoffice.org/DisableFirstStartWzd_ooo32.oxt
  3. Buat file Common.xcu atau download aja dari dropbox gue ini: link
    Misal:
    /nfsserver/software/openoffice.org/Common.xcu
  4. Jangan lupa splash screen versi warna coklat yang udah berganti angka dari 2.4 menjadi 3.2
    Misal:
    /nfsserver/software/openoffice.org/intro.bmp
Sekarang kita buat simple script untuk mengerjakan semua tugas itu (atau download dari link ini):

#!/bin/bash
# where the OpenOffice.org 3.2.0 files located on NFS server
NFS=/nfsserver/software/openoffice.org
# remove old version openoffice.org-2.4.1 (from Ubuntu 8.0.4 LTS)
#apt-get -y remove openoffice.org*
# or use this for details
apt-get -y remove openoffice.org openoffice.org-base openoffice.org-base-core openoffice.org-calc openoffice.org-common openoffice.org-core openoffice.org-draw openoffice.org-evolution openoffice.org-filter-mobiledev openoffice.org-gnome openoffice.org-gtk openoffice.org-help-en-us openoffice.org-impress openoffice.org-java-common openoffice.org-l10n-common openoffice.org-l10n-en-gb openoffice.org-l10n-en-za openoffice.org-math openoffice.org-style-human openoffice.org-writer
# install new version openoffice.org-3.2.0
dpkg -iR $NFS/OOO320_m12_native_packed-1_en-US.9483/DEBS/
# disable wizard
/opt/openoffice.org3/program/unopkg add --shared $NFS/DisableFirstStartWzd_ooo32.oxt
# use file/save system dialog
cp $NFS/Common.xcu /etc/openoffice.org3/share/registry/data/org/openoffice/Office/
chmod 444 /etc/openoffice.org3/share/registry/data/org/openoffice/Office/Common.xcu
# use new splash screen
cp -u $NFS/intro.bmp /etc/openoffice.org3/program/
chmod 444 /etc/openoffice.org3/intro.bmp
# remove all old openoffice.org profiles
# rm -Rf /home/*/.openoffice.org*


Simpan script ini menjadi /nfsserver/software/openoffice.org/oo3-upgrade.sh. Dan untuk mengupgrade di client, cukup lakukan cara ini:

sudo sh /nfsserver/software/openoffice.org/oo3-upgrade.sh


Ok, pren. OpenOffice.org 3.2.0 rasa Ubuntu siap dinikmati :-p

18 Februari 2010

OpenOffice.org 3.2.0 untuk semua client (2)

Pake OpenOffice.org 2.4.1 dari Ubuntu secara bagus terintergrasi Ubuntu 8.04 LTS. Tentunya pemaketannya udah dicustom sedemikian rupa. Sehingga bener-bener "look and feel" Ubuntu (dalam hal ini Ubuntu gunakan Gnome). Kalau kita ambil OpenOffice.org 3.2.0 dari website OpenOffice.org, ada beberapa perbedaan. Yang jelas keliatan sejak awal nih:
  1. Splash screen
  2. Registration wizard
  3. Icon-icon di toolbar
  4. Ukuran icon di toolbar
  5. Kotak dialog File - Save/Open
Dan mungkin banyak lagi. Cuman sengaja kita cek yang jelas aja nih. Yang bener-bener dirasakan perbedaan.

Splash screen

Pasti tau ini kan? Splash screen dari OpenOffice.org 2.4.1 berwarna coklat. Satu tema dengan Ubuntu themes. Coba liat ini:



Ini lokasi filenya:
/usr/lib/openoffice/program/openintro_ubuntu_sun.bmp
/usr/lib/openoffice/program/openabout_ubuntu_sun.bmp

Sedangkan OpenOffice.org 3.2.0 yang masih original berwarna biru. Liat ini:



Ini lokasinya:
/etc/openoffice.org3/program/intro.bmp
/etc/openoffice.org3/program/about.bmp

Biar keliatan menyatu, ganti aja dengan versi lama. Lalu rubah aja angka 2.4 menjadi 3.2 dengan Gimp :-D

Kotak dialog File - Save/Open

Setelah kita test di MIS team selama 1 minggu, lumayan bagus and nggak ktemu masalah kestabliannya. Cuman karena paket ini bukan dari repository Ubuntu, tentunya harus di configure untuk memberi kemudahan disisi client. Yang paling terasa adalah kotak dialog File -Save/Open. Kotak dialog OpenOffice.org 3.2.0 seperti berikut:



Sedangkan OpenOffice.org 2.4.1 (original dari Ubuntu) menggunakan kotak dialog ini:



Karena banyak Linux client gunakan NFS server, dan udah termount (mapping) otomatis setiap login (link), tentunya kotak dialog yang lama (kotak dialog versi Gnome) akan lebih memudahkan user. Dan juga, kita nggak pernah sosialisasi folder / (slash) bla bla bla. Terlalu technical untuk user yang hanya mau klik klik klik. Jadi solusi untuk memudahkan user, ya OpenOffice.org 3.2.0 harus gunakan kotak dialog Gnome.

Sederhana saja: dari Tools -> Options -> General, non aktifkan saja option "Use OpenOffice.org dialogs". Itu kalau per-user setting. Kalo komputernya multi user, ada baeknya di rubah di system setting. Coba buat file ini:

<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<oor:component-data xmlns:oor="http://openoffice.org/2001/registry" xmlns:xs="http://www.w3.org/2001/XMLSchema" oor:name="Common" oor:package="org.openoffice.Office">
<node oor:name="Misc">
<prop oor:name="UseSystemFileDialog" oor:type="xs:boolean">
<value>true</value>
</prop>
</node>


Dan simpan ke dalam /etc/openoffice.org3/share/registry/data/org/openoffice/Office/Common.xcu. Kalau takut salah tulis, coba download dari dropbox gue ini: link

Registration wizard

Satu hal lagi yang terasa menyebalkan adalah "Registration wizard" yang muncul untuk pertama kali penggunaan. Untuk memudahkan user, kita akan disable hal ini. Solusinya ada juga. Coba download addonnya dari link wikinya ini.

/opt/openoffice.org3/program/unopkg add --shared DisableFirstStartWzd_ooo32.oxt

Ok. Sampe disini. Esok kita sambung bagian terakhirnya dari artikel ini.


17 Februari 2010

OpenOffice.org 3.2.0 untuk semua client (1)

Di sini sebagaian user mulai gunakan Ms.Office 2003. Karena desakan dari luar, beberapa user dari group itu, harus di upgrade ke Ms.Office 2007. Cuman sedikit sih. Nggak sampe puluhan. Terutama dalam hal ini pengguna notebook pribadi. Sedangkan sebagaian besar menggunakan OpenOffice.org. Baik Linux client (Ubuntu 8.04 LTS) masih gunakan OpenOffice.org 2.4.1 dan sebagaian Windows user gunakan OpenOffice.org 3.0. Jadi bisa dibayangkan tuh dalam network kita ada:
  1. Ms.Office 2007 SP2
  2. Ms.Office 2003 SP3
  3. OpenOffice.org 2.4.1 (for Linux bawaan Ubuntu 8.04 LTS)
  4. OpenOffice.org 3.0 for Windows
Karena pertukaran dokumen dalam network sangat besar, bisa dikata faktor kompatibilitas dokumen adalah hal yang menentukan. Dan seperti biasa, karena banyak pihak (terutama diluar office kita) yang gunakan Ms.Office 2007 sebagai patokan, tentunya ini jadi tuntutan semua user untuk dapat membukanya. Mereka maunya membuka dokumen dari Ms.Office 2007 sesempurna mungkin. Nah loh :-D

Sebenernya gue udah nguber hal ini ke repository "Ubuntu Backports" . Sayangnya Canonical gunakan policy yang beda untuk hal ini. Ubuntu LTS hanya kasih update security saja (3 tahun untuk versi desktopnya dan 5 tahun untuk versi server). Dan OpenOffice.org adalah paket yang lumayan komplek untuk masuk ke "update security". Akhirnya... tak ada update official OpenOffice.org versi terbaru untuk LTS. Terus terang gue kecewa. Tapi itulah pertimbangan mereka. Padahal untuk keperluan kerja sehari-hari, OpenOffice.org versi terakhir adalah paket yang vital untuk tetap menjaga kompatibilitas dengan Ms.Office.

Emang sih ada PPA openoffice-pkgs di Launchpad. Tapi udah nggak support Ubuntu 8.04 LTS. Lagian gue coba ketemu beberapa bug yang bener-bener parah. Makanya gue lebih suka upgrade official dari Canonical yang tentunya akan lebih stabil. OK, lupain deh :-D Jadi solusi satu-satunya gunakan DEB paket OpenOffice.org dari website OpenOffice.org.

Pertimbangan laen lagi, support ke versi berikutnya dari Ubuntu 10.04 LTS yang bakal di release bulan April 2010. Setelah baca "new features" dari versi terakhir, sepertinya OpenOffice.org 3.2.0 lumayan bagus menghandle Ms.Office dokumen. Pivot table dari Ms.Office file bisa dibuka. File Ms.office berpassword juga bisa dihandle. Dan laen sebagainya yang gue rasa akan sangat bagus untuk semua client. Yang mana akhirnya, Ubuntu client lama (8.04 LTS) dan baru (10.04 LTS) nantinya gunakan versi yang sama.

Setelah install manual di desktop gue (Ubuntu 8.04 LTS), OpenOffice.org 3.2.0 sepertinya layak dipake semua client. Baek yang gunakan Linux maupun gunakan Windows. So.. langkah berikutnya adalah, membuat script yang bisa menyederhanakan proses upgrade OpenOffice.org di Linux client. Tunggu aja deh.





23 Desember 2009

Firestarter dan openVPN client

Notebook gue pake firewall instant. Tentunya pake Firestarter aja. Tinggal klik klik klik udah ready secure firewall untuk personal. Dan langsung ready di gunakan. Keren bukan? Sapa bilang linux susah??? :-D

Sekarang giliran VPN-nya. Karena kebutuhan personal jadi meninggi, gue pake ADSL. Lumayan kenceng. Tapi ente tau sendiri deh. Kerjaan di network terpisah, tentu jadi ribet. Terutama kalo mau mengakses client dan server internal office nggak semudah dulu. Sekarang notebook gue di luar network office. Jadi VPN sangat menunjang banget.

Setelah setting openVPN di network-manager, dan berhasil koneksi ke VPN server office. Rupanya nggak ada hasil real. Bener koneksi, tapi ping ke server office nggak berhasil. Ternyata Firestarter belum ndukung VPN client. Komunikasi VPN-nya jadi ditolak. Setelah cek sana-sini, akhirnya nemu solusi simple aja.

Nggak perlu rubah setting GUI di Firestarter. Cukup jalankan ini saja:

sudo echo "iptables -A INPUT -i tun+ -j ACCEPT" >> /etc/firestarter/user-post
sudo echo "iptables -A OUTPUT -o tun+ -j ACCEPT" >> /etc/firestarter/user-post


Lalu restart service Firestarter:

sudo service firestarter restart


Coba lagi udah ok sekarang.


15 Desember 2009

Buat system yang tahan virus

Bukan masalah Linux. Tapi network dengan banyak OS, disini kelihatan manfaat Linux dan kehandalannya terhadap virus. Dan karena network gue disini ada banyak juga Windows client, jadi akan keliahatan deh gemana gue menghandle ke duanya. Eh 3 deh. Mac OS juga ada 2 notebook client :-D

Sebenernya nggak susah sih bikin sistem yang tahan virus. Asal kita tau sumbernya dari mana, lalu kita tahan atau bentengi disitu. At least, umumnya saat ini ada 3 sumber yang plaing sering jadi penyebaran virus (umumnya berefek pada Windows client):
  • Email
  • Web
  • USB flashdrive
Dari ke 3 nya sumber diatas, mungkin paling simple di bagi lagi jadi 2 aja:
  • External/Internet (Email dan web)
  • Internal (USB flashdrive dan network local)
OK. Sekarang hal ini akan kita pilah lagi lebih jauh.

Pertahanan disisi Server
  1. Virus dari web: usahakan buat proxy server (squid misalnya) dan kawinkan dengan antivirus (HAVP+clamav). Sehingga semua web request akan di scan dengan antivirus terlebih dulu.
  2. Virus dari email: usahakan buat mail server (postfix misalnya) dan kawinkan dengan antivirus juga antispam (amavis+clamav+spamassin)
  3. Gateway pake firewall: Tutup semua port!!! Dan buka yang diperlukan saja. Kalo ada penggunaan mail server diluar office, ada baeknya di intercept dengan antivirus.
Dari ke 3 hal diatas, berusahalan untuk memblok file2 versi M$ yang beresiko bervirus (EXE, COM, PIF, SCR, dll). Restriction ini lumayan ketat emang. Tapi akan sangat bermanfaat mengurangi kerja server dan antivirusnya. Karena tanpa banyak pertimbangan, file2 yang beresiko itu langsung di TOLAK !!!

Pertahanan disisi Client

Linux client
  1. Jangan gunakan root (atau level root/administrator). Berilah user level aja. Semua software di Linux bisa jalan dengan user level saja. It's perfect ;-)
  2. Always update system. Kalo sudah mulai banyak Linux client, kalo perlu sediakan repo sendiri. Jadi updatenya lebih cepet.
  3. Hindari penggunaan Wine !!!
Windows client (more complicated)
  1. Jangan gunakan administrator (atau level poweruser/administrator) untuk kerja sehari-hari. Terus terang hal ini rumit di Windows. Karena banyak skali software yang hanya berfungsi jika running dengan level administrator. Tapi .... itu bukan pilihan. Alias harus dihindari !!! :-p
    Kalo software nggak mau jalan di level user, coba gunakan utility Steel RunAs. User tetep harus kerja di level user, dan software bisa running dengan level admin. No choice on Windows. Paling nggak, virus/spyware/trojan nggak bisa langsung terintall lagi (karena user kan nggak pake level admin lagi) :-p
  2. Disable autorun/autoplay di setiap computer. Ini akan kurangin virus dari USB flashdrive. Coba gunakan software USBVaccine untuk hal ini.
  3. Windows update penting banget. Kalo mulai banyak Windows client, saatnya mikirin bikin WSUS server sendiri. Keuntungannya, loe bisa pantau mana client yang update and mana yang nggak mau update (alias ngambek). Windows client yan nggak terupdate, beresko jadi zombie. Ini paling gampang tertular virus via network (seperti conficker) !!!
  4. Install antivirus di semua Windows client. Dan harus selalu update juga. Kalo mulai banyak Windows client, saatnya mikirin antivirus server sendiri.
Gak jamin 100% Windows akan aman dr virus. Tapi cara ini bisa memberikan hasil nyata. Udah lebih 1 tahun disini gak ada virus yg lolos ;-)

Oya, kebutuhan network bisa beda. Dan solusi bisa disesuaikan lagi. Itupun kita harus slalu mempelajari virus dan antivirusnya. Kalo ada perkembangan baru, sistem kita harus disesuaikan untuk mengcover hal terbaru itu.

OK, pren. Good luck.


31 Oktober 2009

Beresin Usplash yang nggak berfungsi

Notebook bos mendadak di kirim ke ruangan gue. Nggak ada yang aneh sih. Ternyata dia nggak terima gara-gara proses booting Ubuntu 9.04 muncul text. Rupanya booting graphicnya nggak berfungsi. Nggak jelas awalnya gemana, tapi dia mau proses booting ke GUI lagi.

Problemnya di Usplash. Abis booting dengan serentetan text, setelah itu muncul menu login Gnome (GDM). Jadi sebenernya bukan problem yang gede. Cuman namanya user baru, maunya booting Ubuntu harus pake GUI semua. OK lah. Gue coba beresin hal ini.

Setelah obok-obok internet, ternyata hal ini nggak rumit diselesaikan. Coba ikutin aja cara ini:
  1. Pastikan Ubuntu telah terupdate dengan baek.
  2. Lakukan ini di terminal:

    sudo blkid

  3. Cek isi file /etc/fstab dan pastikan "swap" menggunakan UUID yang sama dari hasil no.2 di atas.
  4. Cek isi files /etc/initramfs-tools/conf.d/resume dan pastikan menggunakan UUID yang sama dari hasil no.2 di atas.
  5. Update initrd.img file dengan cara:

    sudo update-initramfs -u

  6. Terakhir restart Ubuntu untuk tau hasilnya.
Goodluck, pren

08 September 2009

Change password via web

Setelah kirim ke semua user tentang keharusan ganti password setiap 100 hari dan juga cara ganti password di Linux client maupun di Windows client (join domain), muncul beberapa komplain. Pengguna notebook yang umumnya menggunakan Windows tidak bisa melakukan pergantian password. Hal ini dikarenakan Windows OS tidak join di domain Samba.

Selain hal itu, pengguna notebook (karena tidak join domain) tidak akan mendapatkan menu pergantian password secara otomatis. Tapi mereka bisa menikmati reminder via email kalo passwordnya mau expired. Cek artikel gue sebelum ini.

Waktunya obok-obok internet. Akhirnya dapat solusi yang paling mudah. Yaitu pergantian  password via web. Dan gue bisa nemukan webldappasswd untuk keperluan ini. Program yang simple banget tuh. Dan emang mungil juga ukurannya.

Cukup install apache dan php5 di server tempat LDAP server berada. Extract file webldappasswd_20060329.tar.gz ke dalam directory /var/www. Selanjutnya edit file ldap.php dan rubah 2 parameternya:

$ldapPasswd    = '/usr/bin/ldappasswd';
$ldapFullUsername = "uid=$userLogin,ou=Users,dc=mydomain,dc=com";

Yang belon ada file "/usr/bin/ldappasswd", silakan install paket ldap-utils dari repo. Selanjutnya tinggal arahin browser ke alamat:

http://myldap.mydomain.com/webldappasswd

Sekarang semua client bisa ganti password dengan leluasa.


31 Agustus 2009

Password reminder

Gue mau menerapkan rutinitas ganti password. Dan ini penting di network gue. Karena sebelumnya dengan netware server, semua user diberi blank password. Dan bertahun-tahun nggak pernah diganti. Aneh kan? Tapi itulah yang terjadi. Dan itu kecurigaan gue kenapa mail server lama pernah di obok2 orang dari internet.

User akan langsung menikmati proses pergantian password. Setiap 100 hari, baek client Windows maupun Linux akan langsung disodorin proses ganti password. Dan ini nggak jadi masalah.

Problemnya user suka lupa saja. Setelah weekend atau beberapa libur dari kerja, ternyata accountnya udah nggak bisa dipake lagi. Alias sudah non aktif karena lupa ganti password. Dan seperti biasa mereka akan lapor ke MIS untuk bantu di resetin password.

Dari beberapa solusi bagus, akhirnya gue pilih password reminder. Sekitar 28 hari sebelum passwordnya expired, email peringatan akan langsung terkirim ke mailbox mereka. Dan ini lebih gampang ngeceknya. Karena kita sebagai admin juga dapat list user yang passwordnya bakal expire atau udah expire setiap minggunya.

Cukup gunakan software passwd_exp untuk melakukannya. Karena mail server udah tersambung ke LDAP server, akhirnya gue install di mail server. Tinggal compile dan install "Text-Tokenizer" dari website yang sama, lalu compile dan install "passwd_exp" juga.

tar zxvf Text-Tokenizer-0.4.2.tar.gz
cd Text-Tokenizer-0.4.2
perl Makefile.PL
make
make test
make install

tar zxvf passwd_exp-1.2.10.tar.gz
cd passwd_exp-1.2.10
./configure
make
make install


Software ini langsung menginstall scheduler di cron. Secara harian akan check password yang hampir expired (minimal 28 hari sebelumnya). Dan mingguan akan check semua user dan listnya dikirim ke administrator. Configure aja di passwd_exp.conf.

/usr/local/etc/passwd_exp/passwd_exp.conf:
module                = shadow.linux
module opt[getent]    = 1
module opt[host]      = myserver.mydomain.com
module opt[shell]     = 1
module opt[uid_min]   = 30000
module opt[uid_max]   = 40000


Untuk check manually di console, cukup lakukan perintah ini:

# passwd_exp -l



19 Agustus 2009

Netbook Acer Aspire 1810T

Anaknya si bos mendadak hari ini bawa barang baru. Saat gue lagi sibuk-sibuknya nyiapin audit salah satu buyer gede. Tanpa babibu langsung minta Vistanya diresize dan sebagaian besar harddisknya harus pake Ubuntu. Alasannya simple aja. Untuk download movie dari internet. Kalo pake Linux, kan nggak ribet sama virusnya.

Ini barang baru. Sepertinya Acer baru launch bulan kemaren. Jadi tentunya agak ribet juga. Pasti banyak kendala. Itulah sebabnya gue minta diundur 1 minggu. Karena proses audit harus gue perhatiin. Tapi gitu deh. Karena anaknya bos, masih juga bersikeran harus kelar hari itu juga. Duh :-(

Antara notebook or netbook, bener-bener nggak jelas. Tapi yang gue baca lebih banyak disebut netbook. Mungkin karena nggak pake CD/DVD drive kalee. Jadi gue coba install Ubuntu Netbook Remix (UNR) 9.01 aja.

Installasi

Pake USB flashdrive 1GB tentunya. Cukup install software USB Image Writer (usb-imagewriter) yang ada di repo Jaunty. Ato bisa juga diambil dr sini:

https://launchpad.net/~ogra/+archive/ppa

Kalo pake cara traditional, bisa juga. Nggak perlu software tadi:

unmount /dev/sdb1
dd if=/home/lutfi/Download/iso/ubuntu/Ubuntu-9.04/ubuntu-9.04-netbook-remix-i386.img of=/dev/sdb1 bs=1M


Pastiin netbook booting dari USB. Berikutnya UNR akan muncul dan siap install. Nggak bedalah ama install Ubuntu LiveCD. Dan proses installnya jalan mulus. Nggak ada masalah.

Booting

Proses booting pertama kali tanpa USB, macet di jalan. Sepertinya error ada masalah sama harddisk. Jadi kemungkinan besar problem driver dr SATA controlernya. Karena susah dapet info dari internet tentang netbook model ini, ya akhirnya check lebih jauh netbook Acer model-model laennya. Akhirnya ketemu juga.

Tambahkan parameter ini di kernel untuk booting:

libata.noacpi=1

Kalo nggak tau caranya, coba booting lagi pake USB tadi, mount harddisk netboot ke /mnt dan edit menu grubnya. Tambahkan parameter itu di file /mnt/boot/grub/menu.lst pada 2 baris ini:

# defoptions=quiet splash
# altoptions=(recovery mode) single

Rubahlah jadi seperti ini:

# defoptions=quiet splash libata.noacpi=1
# altoptions=(recovery mode) single libata.noacpi=1

Simpan dan akhiri dengan:

chroot /mnt
sudo update-grub


Setelah restart dan booting dari harddisk netbook, problem tadi udah hilang.

LAN

Pertama kali, gue pilih menu recovery. Jadi masuk ke prompt saja. Masalah baru muncul karena NIC nggak terdeteksi. Wireless sih OK. Buktinya di LiveCD normal. Tapi rupanya NIC nggak langsung online. Jadi gue harus beresin yang ini dulu.

Berikut ini hasil lspci dan lsusb:
<font face="Courier New">$ lspci 
00:00.0 Host bridge: Intel Corporation Mobile 4 Series Chipset Memory
Controller Hub (rev 07)
00:02.0 VGA compatible controller: Intel Corporation Mobile 4 Series
Chipset Integrated Graphics Controller (rev 07)
00:02.1 Display controller: Intel Corporation Mobile 4 Series Chipset
Integrated Graphics Controller (rev 07)
00:1a.0 USB Controller: Intel Corporation 82801I (ICH9 Family) USB UHCI
Controller #4 (rev 03)
00:1a.7 USB Controller: Intel Corporation 82801I (ICH9 Family) USB2 EHCI
Controller #2 (rev 03)
00:1b.0 Audio device: Intel Corporation 82801I (ICH9 Family) HD Audio
Controller (rev 03)
00:1c.0 PCI bridge: Intel Corporation 82801I (ICH9 Family) PCI Express Port
1 (rev 03)
00:1c.3 PCI bridge: Intel Corporation 82801I (ICH9 Family) PCI Express Port
4 (rev 03)
00:1d.0 USB Controller: Intel Corporation 82801I (ICH9 Family) USB UHCI
Controller #1 (rev 03)
00:1d.1 USB Controller: Intel Corporation 82801I (ICH9 Family) USB UHCI
Controller #2 (rev 03)
00:1d.2 USB Controller: Intel Corporation 82801I (ICH9 Family) USB UHCI
Controller #3 (rev 03)
00:1d.7 USB Controller: Intel Corporation 82801I (ICH9 Family) USB2 EHCI
Controller #1 (rev 03)
00:1e.0 PCI bridge: Intel Corporation 82801 Mobile PCI Bridge (rev 93)
00:1f.0 ISA bridge: Intel Corporation ICH9M-E LPC Interface Controller (rev
03)
00:1f.2 SATA controller: Intel Corporation ICH9M/M-E SATA AHCI Controller
(rev 03)
00:1f.3 SMBus: Intel Corporation 82801I (ICH9 Family) SMBus Controller (rev
03)
01:00.0 Ethernet controller: Attansic Technology Corp. Device 1063 (rev c0)
02:00.0 Network controller: Intel Corporation Wireless WiFi Link 5100

$ lsusb
Bus 002 Device 002: ID 04f2:b175 Chicony Electronics Co., Ltd
Bus 002 Device 001: ID 1d6b:0002 Linux Foundation 2.0 root hub
Bus 006 Device 002: ID 0a5c:2151 Broadcom Corp.
Bus 006 Device 001: ID 1d6b:0001 Linux Foundation 1.1 root hub
Bus 005 Device 001: ID 1d6b:0001 Linux Foundation 1.1 root hub
Bus 004 Device 002: ID 1b1a:0000
Bus 004 Device 001: ID 1d6b:0001 Linux Foundation 1.1 root hub
Bus 001 Device 001: ID 1d6b:0002 Linux Foundation 2.0 root hub
Bus 003 Device 001: ID 1d6b:0001 Linux Foundation 1.1 root hub</font>
Setelah googling tentang "Ethernet controller: Attansic Technology Corp", driver bisa didownload dari:

http://partner.atheros.com/Drivers.aspx

Pilih "R81Family Linux Driver". Setelah salin ke /usr/local/src. Install pake ini:

cd /usr/local/src
tar zxvf AR81Family-linux-v1.0.0.10.tar.gz
make
make install


Reboot lagi dan pilih recovery mode lagi. Sekarang NIC dan berfungsi.

GUI

Berikutnya muncul masalah GUI. Muncul GDM, tapi nggak bisa login. Setelah cari di Internet, sepertinya ini masalah driver VGA Intel. Jadi gue reboot lagi, dan masuk recovery mode. Well... VGA driver Intel di Jaunty emang bermasalah. Jadi versi updatenya akan lebih bagus digunakan. Bisa dicoba link ini:

http://ubuntuforums.org/showthread.php?t=1130582

Rupanya harus gunakan PPA yang ini:

https://launchpad.net/~ubuntu-x-swat/+archive/x-updates/

Setelah dapat update VGA driver Intel terbaru dan update semua package, sehabis booting langsung bisa menikmati desktop UNR.

Laen-laen

Karena nggak terlalu fokus, gue cek sepintas aja. Webcam langsung OK. Card reader juga OK. Wireless OK. Compiz + Emerald juga OK.

Goodluck, pren



08 Agustus 2009

NIC Realtek error failed -16

Hari ini ada satu client yang mendadak komputernya nggak berfungsi. Sama salah seorang MIS diganti sama CPU yang laen. Harddisk Linuxnya di pindah ke CPU yang ini. Tapi mereka minta bantuan. Kenapa networknya jadi nggak berfungsi? Yah... waktunya ajarin cara trace masalah nih.

Paling nggak kita harus tau apa merk network card yang dipake. Mungkin cara yang paling simple ini:

lspci

Nih hasilnya.

00:00.0 Host bridge: Advanced Micro Devices [AMD] AMD-751 [Irongate] System Controller (rev 25)
00:01.0 PCI bridge: Advanced Micro Devices [AMD] AMD-751 [Irongate] AGP Bridge (rev 01)
00:07.0 ISA bridge: Advanced Micro Devices [AMD] AMD-756 [Viper] ISA (rev 01)
00:07.1 IDE interface: Advanced Micro Devices [AMD] AMD-756 [Viper] IDE (rev 07)
00:07.3 Bridge: Advanced Micro Devices [AMD] AMD-756 [Viper] ACPI (rev 03)
00:07.4 USB Controller: Advanced Micro Devices [AMD] AMD-756 [Viper] USB (rev 06)
00:09.0 Ethernet controller: D-Link System Inc RTL8139 Ethernet (rev 10)
01:05.0 VGA compatible controller: Trident Microsystems CyberBlade/XP (rev 63)


Jelas tuh "Ethernet controller" pake chip Realtek (RTL8139). Dan kebanyakan di sini emang gunakan network card dengan chip yang sama. Jadi gue trace lebih jauh kenapa gagal. Simple aja. Gunakan "dmesg" dengan filter keyword "ethernet" atau nama modulnya "8139too" kalo emang kita tau nama modulnya.

dmesg | grep 8139too

Ternyata dapat error ini:

Aug 7 22:05:27 hostname kernel: [ 26.707978] 8139too Fast Ethernet driver 0.9.28
Aug 7 22:05:27 hostname kernel: [ 26.708596] 8139too: probe of 0000:00:09.0 failed with error -16


Rupanya motherboard kuno ini nggak bagus. Setelah obok-obok internet gunakan Google, ketemu solusi. Tambahkan option "pnpbios=off pnpacpi=off" sebagai parameter kernel.

OK. Mari kita coba. Nggak rumit juga. Edit menu grub dengan cara ini:

sudo nano /boot/grub/menu.lst

Cari baris ini:

# defoptions=quiet splash

Dan tambahin dengan parameter tadi.

# defoptions=quiet splash pnpbios=off pnpacpi=off

Save dan lakukan upgrade Grub dengan cara ini.

sudo update-grub

Success, pren. Abis restart langsung ke network tanpa masalah.

02 Agustus 2009

Group mail lokal dan mailbox lokal (2)

Kalo artikel sebelumnya udah ngebatesin group mail agar terproteksi dari luar, sekarang adalah lanjutannya. Gemana ngebatesin user (atau mailbox tertentu) hanya bisa kirim ke domain milik kita. Jadi disini, Postfix gunakan pendekatan 2 arah. Group mail atau mailbox kita batesin terima email dari luar, dan juga kita batesin supaya tidak bisa kirim email ke luar.

Kalo artikel sebelumnya, hanya butuhkan class untuk ngebatesin terima email dari luar, sekarang lengkapin aja dengan class ke 2 untuk ngebatesin user kirim email ke domain selain milik kita.

/etc/postfix/main.cf:
smtpd_restriction_classes = local_only,local_user
# restrict mailbox from receiving email from outside
local_only = permit_mynetworks, permit_sasl_authenticated, reject
# restric mailbox for sending email to outside
local_user = check_recipient_access hash:/etc/postfix/maps/local_domain, reject

smtpd_client_restrictions =
check_sender_access regexp:/etc/postfix/maps/internal_user,
permit_mynetworks,
permit

smtpd_recipient_restrictions =
check_recipient_access regexp:/etc/postfix/maps/internal_only,
...

Lalu definisikan group mail dan mailbox yang mau dibatesin terima email dari luar.


/etc/postfix/maps/internal_only:
# Local group mail here
/^everyone@(my\.domain|my\.domain2|my\.domain3)$/ local_only
# Local user here
/^user1@(my\.domain|my\.domain2|my\.domain3)$/ local_only
/^user2@(my\.domain|my\.domain2|my\.domain3)$/ local_only
...

Juga definisikan mailbox yang mau dibatesin kirim email hanya ke domain kita.

/etc/postfix/maps/internal_user:
# Local user here
/^user1@(my\.domain|my\.domain2|my\.domain3)$/ local_user
/^user2@(my\.domain|my\.domain2|my\.domain3)$/ local_user
...

Dan ini list dari domain kita.

/etc/postfix/maps/local_domain:
my.domain OK
my.domain2 OK
my.domain3 OK
...

Done, pren.

26 Juli 2009

Group mail lokal dan mailbox lokal

Gue cukup seneng dengan mail server baru. Karena banyak option di Postfix yang sangat berguna untuk customization. Salah satunya, tentang group mail. Yang belom tau, group mail itu cuman alias doang. Jadi alias yang selalu ada di semua mail server, itu akan jadi masalah. Kala alias ini terbuka untuk pihak luar.

Contoh nih:

support: john, mike, mee
everyone: :include: /etc/postfix/groupmail/everyone.aliases


Dari 2 contoh di atas, ada 2 group mail. Group mail support@my.domain cuman punya 3 member. Sedangkan group mail ke 2, yaitu everyone@my.domain punya 400 lebih member.

Coba bayangkan. Kalo ada spam/virus masuk ke group mail pertama? No big deal lah. Cuman 3 user. Gemana kalo masuk ke group mail ke 2? Bisa bayangkan nggak? Sekitar 400 user (gampangnya 400PC), bakal terima hal itu. Duh .... ini bisa bener-bener bencana. Kalo cuman spam, paling komplain user saja yang krang kring melulu. Tapi gemana juga kalo virus genersi baru?. Pekerjaan tambahan untuk MIS. Karena harus beresin 400PC tadi :-D

Untuk itu di mail server baru ini, ada ide untuk membatasi group mail jadi lokal saja. Yang artinya group mail dengan banyak member, harus dibatasin cuman user lokal saja yang bisa kirim. Sedangkan user dari internet harus di tolak. Karena emang tujuan group mail ini untuk keperluan internal saja.

Well ... konfigurasinya sangat susah di Sendmail. Tapi lumayan mudah di Postfix. Untuk Sendmail (dulu), gue sampe pake Mailman. Dan ini artinya kerjaan tambahan kan? Sedangkan di Postfix, itu fasilitas build-in. Tanpa software tambahan. Di websitenya sudah sediain tutorial untuk ini. Coba cek aja ke website Postfix. Kan banyak tuh dokumentasinya. Dan link yang ini jelasin dengan cara yang simple. Bagian "Protecting internal email distribution lists".

Problemnya disini, beberapa company ada di kota laen. Juga beberapa notebook selalu mobile. Artinya, mereka diluar network kita. Dan mereka gunakan SMTP-AUTH untuk pengiriman email. Dan contoh itu nggak bisa handle hal ini.

/etc/postfix/main.cf:
smtpd_restriction_classes = local_only
local_only = permit_mynetworks, permit_sasl_authenticated, reject
smtpd_recipient_restrictions =
check_recipient_access regexp:/etc/postfix/maps/internal_only,
...

/etc/postfix/maps/internal_only:
# Local group mail here
/^everyone@(my\.domain|my\.domain2|my\.domain3)$/ local_only
# Local user here
/^user1@(my\.domain|my\.domain2|my\.domain3)$/ local_only
/^user2@(my\.domain|my\.domain2|my\.domain3)$/ local_only
...

Penggunaan "smtp_restriction_classes" di sini sangat membantu. Dengan mengijinkan "permit_mynetworks" (user lokal) dan "permit_sasl_authenticated" (user remote yg gunakan SMTP-AUTH). Dan selain ke 2 macem user itu, langsung di tolak.

Dan hal itu bisa dipake untuk ngebatasin nggak cuman group mail. Tapi mailbox juga. "user1" dan "user2", hanya bisa terima email dari dalam saja. Oya, file /etc/postfix/maps/internal_only hanya untuk definisikan group mail lokal dan mailbox lokal. Dan contoh diatas gunakan share domain. Bukan virtual domain.

11 Juli 2009

Mail Server baru

Setelah satu bulan sibuk dengan hal laen yang nggak terlalu berhubungan sama IT, sekarang gue baru sempet lagi. Nyambungin cerita proses migrasinya. Kalau loe ngikutin ceritanya, terakhir kali Netware 5.1 server udah di museumkan. Dan proses selanjutnya adalah memperbarui mail server. Bener-bener belajar dari awal untuk guenya.

Sekitar 6 tahun di Jakarta gue terbiasa Sendmail di Redhat Linux sampe Fedora Core. Tapi di sini gue ganti gunakan Ubuntu Server 8.04 LTS Edition. Secara konsep semua Linux itu sama. Jadi emang nggak sulit lah beradaptasi dari Redhat/Fedora ke Ubuntu. Termasuk juga mail server. Semua mail server ya cara kerjanya seperti itu deh. Jadi di sini gue perlu belajar (atau penyesuaian) dari Sendmail ke Postfix. Well... bukan hal yang sulit. Karena banyaknya dokumentasi yang bertebaran di Internet.

Sekitar 1 bulan gue coba-coba banyak options di Postfix. Yang mana karena MIS di sini 8 tahun menggunakan Redhat Linux tentunya gue harus memikirkan di sisi mereka juga. Tapi juga kebutuhan baru tentunya. Terutama nerapin teknologi baru di mail server. Jadi solusinya, untuk sementara pindahin semua account dan system kerja dari Sendmail ke Postfix. Tapi ke depannya bakal gue percanggih lebih advanced lagi.

Beberapa hal yang dulu ada di Sendmail bener-bener gue udah check. Seperti berikut:
  1. Pemindahan semua mailbox (inbox dan folder laennya)
  2. Pemindahan semua alias (atau group mail)
  3. Open Relay
  4. SMTP AUTH
  5. Antivirus
  6. DNSBL
  7. Filtering attachment
  8. Sender Address Verification
  9. Greylisting
  10. Spamassasin
  11. LDAP support
Well .... semua gue cek secara sangat detil. Karena menurut gue itu kebutuhan dasar bagi mail server di sini sebelumnya. Jadi gue harus provide semua itu. Dan hasilnya, sangat sangat memuaskan :-D

Suprise juga deh. Terus terang configure sendmail dengan semua tambahan fasilitas di atas bener-bener bukan hal mudah. Bahkan susah deh. Karena harus nambahin banyak sekali milter. Dan solusi Postfix bukan main. Postfix sangat gampang di configure. Dan hampir semua di atas secara build in udah disediakan. Dan... bahkan gue dapat lebih itu :-D

Sekitar 2 minggu lalu proses pergantian mail server gue lakukan. Dan...sukses!!! Email-email lama bagi pengguna webmail tetep tersedia. Dimana webmailnya dari Squirremail menjadi RoundCube. Email keluar masuk sampe detik ini bener-bener kenceng. Dan semua mailbox tidak ada yang terlewatnya. Semua sekarang gunakan 1 username & password untuk login Windows/Linux, email and instant messaging (Pidgin).


10 Juni 2009

Xerox Document Center C320

Sebelumnya gue udah pernah setting printer ini. Karena nggak ada driver yang cocok, gue pilih driver generic PCL6 seperti biasa. Dan emang bisa cetak. Sayangnya ya cuman hitam putih aja. Cetak warna semuanya akan di convert ke hitam putih. Huh?

Nggak sengaja smalem waktu baca-baca milist, ada yang tanya mengenai Xerox tapi model laen. Waktu Googling nemukan driver Linuxnya justru untuk Xerox Document Center 240/C320/C400 yang ada di company sini. Jadi tertarik pengen nyoba lagi.

Setelah download driver dari sini:

http://www.support.xerox.com/go/results.asp?Xtype=download&prodID=WCM24&Xlang=en_au&Xcntry=AUS

Ternyata nggak ada tuh untuk Xerox Document Center 240/C320/C400. Semua ppd filenya justru untuk model laennya. Gemana nih Xerox? Bener-bener deh. Linknya jelas, tapi setelah di extract justru nggak ada untuk model itu. Bahkan udah gue intip setiap ppd filesnya satu persatu, emang nggak ada keterangan untuk model itu.

Nggak sengaja lagi, ada link "Documentation" di link download tadi. Setelah gue klik, justru menuju ke sini:

http://www.support.xerox.com/go/results.asp?Xtype=docs&prodID=WCM24&Xlang=en_au&Xcntry=AUS&prodName=Document%20Centre%20C240/C320/C400

Aneh! Semua yang muncul di halaman ini adalah Xerox WorkCenter M24. Bukan support dari Xerox Document Center 240/C320/C400. Nggak jelas nih. Gue yang bego, or Xerox yah? :-D Karena gue coba klik skali lagi, emang muncul lagi semua dokumentasi link Xerox WorkCenter M24.

Ya udah. Akhirnya gue cari dari ppd file tadi untuk Xerox WorkCenter M24. Lalu ppd file (xrxwcm24.ppd) ini gue coba pake untuk Xerox Document Center 240/C320/C400 milik kita. Well... color bisa dicetak dengan sempurna. :-D

07 Juni 2009

Generate otomatis Logon script di Samba

Sebenernya idenya udah dari tahun lalu pengen bikinnya. Tapi karena melihat keadaan user sini yang nggak terlalu komplek waktu itu, cukup bikin 1 departemen 1 macem logon script saja. Dan MIS udah terbiasa dengan hal ini. Maklum, mereka baru kenal Linux. Banyak nggak taunya kalo sebenernya server Linux bisa di customize untuk kebutuhan macem-macem. Dan kali ini loe akan liat hasilnya ;-)

Setelah baca artikel Vavai (link), baru inget lagi. Dan tepat juga dengan keluhan beberapa bos sini. Mereka pengen akses di banyak departemen folder. Maunya semuanya langsung muncul seperti Linux user. Well ... Ubuntu (Gnome) client di sini menikmati logon script juga loh :-D Sekali login ke Gnome, semua folder di server NFS langsung terbookmark otomatis. Baca deh artikel gue tentang ini (link).

Karena mulai banyak user yang maunya akses beberapa folder departemen laen, mau nggak mau harus cari solusi. Setelah baca-baca "samba-doc" muncul ide juga. Sayangnya contoh logon script yang di generate pake Python dan Perl. Dan gue nggak ngerti tuh ke 2 bahasa itu. OK, no problem deh. Pake scripting yang laen juga bisa di Linux. Karena dikit-dikit tahu tentang Bash, akhirnya gue pilih Bash script saja. Dan berhasil :-D

Kondisi sharing di server (Samba)

Setiap user disini, akan langsung menikmati folder-foldernya di server:
  1. Personal (masing-masing username dapat folder sendiri)
    Default Samba pake nama [home], tapi sengaja gue ganti nama sharenya.
  2. Department (semua user di departemen yang bisa akses)
  3. Public (Semua user bisa baca, hanya perdepartemen yang bisa baca/tulis)
  4. Software (software for Linux/Windows untuk kebutuhan MIS support ke client)
  5. Temp (Temporary folder)
Untuk No.1,3,4,5 setiap user akan menikmati mapping folder ini. Kendala munculnya di no.2 di atas. Ada user yang maunya akses folder ke 3 departemen. Padahal logon scriptnya udah kita set ke default department. Mau nggak mau, MIS akan mount manual di Windows. Dan ini akan jadi masalah, saat user pake komputer laen departemen selain default nggak muncul lagi.

Pake logika yang sama seperti bikin script untuk Gnome, disini ada perbedaan cara kerja. Windows client memiliki fasilitas logon script saat udah join ke Windows/Samba server. Jadi tanpa perlu nambah apa-apa di client. Murni generate script dan deteksi group semuanya dilakukan di server Linux/Samba. Sama skali tanpa perlu nambah software di client.

Bandingkan dengan Ubuntu/Gnome client di artkel sebelumnya (link). Script emang ada di NFS server. Tapi setiap user login via GDM, script di server tersebut harus di load. Jadi autostart programnya akan bermanfaat disini. Cukup buat 1 shortcut yang sangat simple dan copy ke semua client Ubuntu. Siapapun yang login ke Ubuntu client, shortcut itu akan meload script di NFS server dan langsung folder di NFS akan terbookmarks di File Browser (Nautilus). Solusi beres. Baca artikel di link atas selengkapnya.

Konfigurasi Samba

Ini konfigurasi di Samba server. Terutama bagian yang berkaitan dengan netlogon saja yah:

[global]
logon script = %U.bat

[netlogon]
path = /samba/netlogon
writeable = no
guest ok = no
root preexec = /usr/local/bin/genlogonscript.sh %U
root postexec = rm -f /samba/netlogon/%U.bat


Dan ini adalah script bash untuk mengenerate logon scriptnya. Yang harus di simpan ke /usr/local/bin/genlogonscript.sh dan buat jadi executable. Kalo ragu copy paste, bisa ambil salinan script ini di dropbox gue (link).

#!/bin/bash
# Logon script generator using Bash
# created by Lutfi <lutfi.arab@gmail.com> @2009
#
# Requirement software:
# - tofrodos
#
# Limitation:
# - ldap group have to same with department folder
# - mapping drive from drive L until drive Y
#
# define your server here

servername=SAMBASVR
logonscriptdir=/samba/netlogon
logonscript=$logonscriptdir/$1.bat
user=$1

# starting to generate logon script
# set time on client
echo "NET TIME \\\\$servername /SET /YES" > $logonscript

# delete old mapping
drive=( J K L M N O P Q R S T U V W X Y )
for (( i=0; i<${#drive[@]}; i++ )); do
echo "NET USE /DEL ${drive[$i]}:" >> $logonscript
done

# map personal folder
# default samba using \\<samba-server>\<username>
echo "NET USE J: \\\\$servername\\PERSONAL" >> $logonscript

# map public folder
echo "NET USE K: \\\\$servername\\PUBLIC" >> $logonscript

# map department folder
drive=( L M N O P Q R S T U V W )
let driveno=-1

for i in `/usr/bin/groups $user` ;
do
for j in `/bin/ls /samba/department/` ;
do
if [ $i == $j ] ; then
let driveno++ ;
echo "NET USE ${drive[$driveno]}: \\\\$servername\\$i" >> $logonscript ;
fi ;
done ;
done

# map software folder
echo "NET USE X: \\\\$servername\\SOFTWARE" >> $logonscript

# map temp folder
echo "NET USE Y: \\\\$servername\\TEMP" >> $logonscript

# add space here
echo >> $logonscript

# convert text to dos format
cd $logonscriptdir
/usr/bin/unix2dos $logonscript
/bin/chmod 644 $logonscript

#finishing
exit

Contoh hasil generate

Misal generate logon script untuk gue, bisa di cek dulu gue masuk groups apa nih? Oya, gue pake sambldap-tools. Jadi groups udah ada di LDAP dan udah terintegrasi dengan sistem. Tapi kalopun nggak pake LDAP server (murni samba), script ini tetep bisa. Karena deteksi groups gunakan sistem Linux. Misal nih gue masuk groups apa aja:

root@sambasvr:~# su lutfi
lutfi@sambasvr:/root$ groups
Domain Users Domain Admins Administrators mis management

Jadi gue masuk di groups (department): "mis" dan "management". Dan ke dua groups ini punya folder di /samba/department. Group yang laen (Domain Users, Domain Admins dan Administrators) adalah default groups dari Samba. Yang mana nggak ada foldernya. Jadi ini akan diabaikan. Jadi untuk yang ini, jangan punya folder department bernama: Domain, Admins, Administrators dan Users. Inget yah!

Berikut contoh hasil script yang di generate:

root@sambasvr:/samba/netlogon# cat lutfi.bat
NET TIME \\SAMBASVR /SET /YES
NET USE /DEL J:
NET USE /DEL K:
NET USE /DEL L:
NET USE /DEL M:
NET USE /DEL N:
NET USE /DEL O:
NET USE /DEL P:
NET USE /DEL Q:
NET USE /DEL R:
NET USE /DEL S:
NET USE /DEL T:
NET USE /DEL U:
NET USE /DEL V:
NET USE /DEL W:
NET USE /DEL X:
NET USE /DEL Y:
NET USE J: \\SAMBASVR\PERSONAL
NET USE K: \\SAMBASVR\PUBLIC
NET USE L: \\SAMBASVR\mis
NET USE M: \\SAMBASVR\management
NET USE X: \\SAMBASVR\SOFTWARE
NET USE Y: \\SAMBASVR\TEMP

Laen-laen

Script ini akan gunakan drive mapping mulai drive J sampe drive Y. Jadi kalo butuh manually mount, sebaiknya jangan gunakan drive itu. Karena setiap login akan di diskonek dan di bikin drive mapping baru.

See pren, dengan Linux semua jadi bisa kan;-)

31 Mei 2009

Memuseumkan Netware

Akhirnya berhasil juga nih menghilangkan Netware bajakan kuno dari factory ini. Goodluck for MIS team sini. Setelah 8 bulan kerja keras, tiga company berhasil menggunakan Ubuntu Server 8.04 LTS Edition tanpa kehilangan data dan juga tanpa adanya perubahan disisi client Windows. Mungkin yang beda sekarang separohnya adalah client Ubuntu Linux 8.04 LTS Edition :-D

Baek client Linux maupun client Windows bisa mengakses folder yang sama persis. Jadi mereka nggak terlalu pusing. Dan sekarang nggak terlalu heboh seperti pertama kali dulu. Denger Linux banyak yang bilang sulit. Tapi anehnya sekarang lancar-lancar aja. Bahkan beberapa notebook personal minta diinstall Linux. Termasuk anaknya bigbos :-D

Sebelumnya juga, ada satu Windows 2003 server juga bajakan udah dilenyapkan terlebih dulu. Bayangin yah (pada saat itu). Client Windows 2003 server bisa akses netware (karena ada netware client). Sedangkan client Netware server bisa akses Windows 2003 karena mereka juga punya account di server ini. Jadi semua user punya 2 account di server berbeda. Sialnya accout namenya beda. Dengan password yang beda juga. Tapi struktur directory dan usernya .... bener-bener kaco abis. Belon lagi virus virus virus dan juga seperti biasa. Restart tiap minggu.

Well... kedua server bajakan udah disatukan menjadi Ubuntu Server 8.04 LTS Edition dengan Samba+LDAP dan NFS+LDAP. Service Samba+LDAP akan layanin Windows client. Sedangkan service NFS+LDAP layanin Ubuntu client. Total sekitar 300 user (di 3 company) udah menikmati tanpa problem. Cukup 1 username dan 1 password untuk akses Samba/NFS, instant messaging (pidgin). Dan 2-3 minggu ke depan mail server bisa gunakan username and password yang sama.

Itulah rencananya. Minggu depan akan mulai serious uji coba mail server baru. Dan dalam 2-3 minggu ke depan mail server harus baru. Juga gunakan Ubuntu Server 8.04 LTS Edition dengan postfix+amavis. Karena mail server lama masih Redhat 7.3 yang nggak sanggup handle 2GB mailbox :-D

Sebenernya masih ada 2 company lagi. Satu company pake Windows 20003 license (OEM). Sayangnya nggak punya ACL license. Itu juga bakal kita ganti ke Samba. Dan satu company lagi nggak pake server. Cuma company ini ada di kota laen. Jadi solusi OpenVPN juga akan diterapin disini. Supaya mreka bisa mengakses server Samba disini. Juga beberapa intranet website yang dari dulu mereka nggak pernah bisa akses. Well... keduanya juga bakal gunakan client Ubuntu Linux.

Ok. Pren. Keep watching ...

24 Mei 2009

Ubuntu Server Guide

Sering banget dapat pertanyaan. Belajar dari mana? Wah... susah jawabnya. Bukan karena susah dapat informasinya. Justru karena terlalu banyak pilihan informasi. Hingga mau jawab jadi bingung. Sebegitu banyaknya guide masa nggak bisa nemukan yah? :-D

Ubuntu itu distro yang bikin gue seneng karena banyak dokumentasinya. Dan karena dukungan komunitas yang banyak, lebih banyak lagi tuh versi turunannya. Dan ini membuat banyak pihak menyumbang ke Ubuntu. Termasuk guide untuk bikin server. Bagus dan mudah di akses.

Anehnya banyak yang nanya gue belajar dari mana? Apalagi di mailing list? Sering kali gue temukan pertanyaan itu. Gemana buat server? Harus belajar dari mana? Dan laennya yang intinya sepertinya Ubuntu Server itu beda sama Ubuntu Desktop. Padahal keduanya sama aja.

Gemana cara mudah menemukan "Ubuntu Server Guide"? Wah... mudah banget. Di semua Ubuntu desktop selalu disertakan tuh. Jadi mending loe obok-obok dulu helpnya. Semuanya ada disitu. Hebatnya, Ubuntu Server Guide ini selalu terupdate di setiap versi baru Ubuntu. Jadi smakin lengkap saja.

Cara menemukannya simple. Coba ikutin cara ini:
  • Klik menu System
  • Help and Support
  • Advanced Topics
  • Installing Server Applications


Lengkapkan? Betul sekali. Kebutuhan dasar untuk pemula yang pengen mengenali Ubuntu sebagai server bisa dipelajari di sini. Hampir semua applikasi server bisa ditemukan di sini. Cukup coba semua itu di Ubuntu Desktop. Ubuntu Desktop akan bisa berfungsi sebagai server.

Cara laen yang lebih kilat untuk mengakses Ubuntu Server Guide, tekan Alt+F2 dan command ini:

yelp ghelp:serverguide

Yang butuh versi HTML, jadi bisa diakses dari LAN (jika dipasang di webserver), bisa diinstall paket ini:

sudo apt-get install ubuntu-serverguide

Lalu buka aja webbrowser dan masukkan file ini:

file:///usr/share/ubuntu-serverguide/html/C/index.html

Tapi kalo pengen mengaksesnya dari internet, Ubuntu juga menyediakannya:

https://help.ubuntu.com/9.04/serverguide/C/index.html



Dan juga bisa di download versi PDF:

https://help.ubuntu.com/9.04/serverguide/C/serverguide.pdf

So pren, banyak sekali cara untuk mengakses Ubuntu Server Guide. Kalau butuh guide yang laen tersedian di Internet, coba kunjungin ini:

https://help.ubuntu.com/community
http://www.ubuntuguide.org
http://wiki.ubuntu-id.org/PanduanUbuntu
http://www.howtoforge.org (macem-macem distro)

Keep update, pren

21 Mei 2009

Sharing folder/printer client Linux untuk client Windows

Kali ini gue bahasa gemana cara paling mudah untuk sharing folder atau sharing printer client Linux untuk client Windows. Sorry, ini bacaan untuk MIS/IT di perusahaan. Bukan untuk user biasa yah. Karena memang ini cocok diterapkan di jaringan komputer dalam perusahaan. Terutama yang ada client Linux atau client Windowsnya.

Semua client Linux (Ubuntu) disini menggunakan NFS+LDAP. Sedangkan client Windows menggunakan Samba+LDAP. Keduanya sudah tersambung ke LDAP dengan baek. Sekarang gemana sharing printer dan folder di client Linux untuk client Windows? Itu akan gue bahas disini.

Sharing printer

Semua client Linux sharing printernya menggunakan CUPS. Sama sekali nggak pake Samba. Ngapain sharing printer pake Samba? CUPS jauh lebih mudah dari teknologi Windows. Check link ini yah untuk tahu detailnya.

Sharing folder

Hal laen yaitu sharing folder client Linux agar bisa diakses client Windows. Gue pernah singgung artikel beberapa bulan yang lalu tentang nautilus-share di link ini yah. Nah ini yang gue pake. Sorry, gue nggak mau ribet ajarin setting Samba secara lengkap panjang lebar ke MIS. Karena mereka masih baru. Dan terus terang itu nggak simple kan? Jadi solusi dengan nautilus-share akan simple untuk mereka.

Walau hampir semua user menyimpan data di server, solusi seperti harus gue sediakan. Karena dengan user sekitar 400 orang, pasti nggak semuanya ngikutin aturan. Dan itu ternyata ada. Tapi sudah kita tegasin, resiko hilang data di client, kita nggak bisa restore. Kalau data di server hilang, kita bisa restore dari backupnya.

Nautilus-Share

Karena setiap client Ubuntu Linux menggunakan NFS+LDAP, ini contoh saja. Home folder gue sendiri. Fokuskan di permission dan ownershipnya.

root@lutfi:~# ls -l /home/lutfi/
total 1740
-rw-rw-r--  1 lutfi Domain Users   8781 2008-11-28 07:39 todo.txt
-rw-rw-r--  1 lutfi Domain Users   3229 2008-10-29 13:27 avahi.txt
drwxrwxrwx  3 lutfi Domain Users   4096 2009-03-11 16:31 Desktop
drwxrwxr-x 24 lutfi Domain Users   4096 2009-03-09 09:59 Documents
drwxrwxr-x 18 lutfi Domain Users   4096 2009-02-23 08:09 Downloads

Jelas dari hasil di atas, group ownership adalah "Domain Users". Ini karena gue buat LDAP server pake smbldap-tools. Yang hasilnya LDAP server bisa digunakan untuk otentikasi terpusat. Dipake untuk Samba dan semua client Ubuntu. Semua client Ubuntu akan masuk dalam group "Domain Users".

Dan masing-masing home folder, ini listnya:

root@lutfi:~# ls -l /home/
total 16
drwxr-xr-x 120 lutfi    Domain Users 12288 2009-03-11 16:17 lutfi
drwxr-xr-x  32 sysadmin sysadmin      4096 2009-02-23 09:19 sysadmin

User "sysadmin" itu di create waktu install Ubuntu. Levelnya root (administrator) tentunya. Jadi bisa gunakan sudo dengan user ini. Sedangkan user "lutfi" hanya sebagai user saja. Tidak bisa gunakan sudo. Jadi tidak bisa melakukan fungsi-fungsi root.

Jadi jelas disini, untuk melakukan perubahan sistem, harus gunakan user "sysadmin". Termasuk untuk melakukan share dengan nautilus-share, gunakan login "sysadmin". Karena login user masing-masing tidak akan diijinkan.

Untuk install nautilus-share, lakukan ini:

sudo apt-get install nautilus-share samba libpam-smbpass

Setting nautilus-share sebenernya nggak beda sama Samba. Cuman udah dibuat sesimple mungkin. Ini contoh settingnya default dari Ubuntu Linux 8.04 LTS:

root@lutfi:~# cat /usr/share/doc/nautilus-share/examples/smb.conf

[global]
workgroup = HOME
security = share

usershare path = /var/lib/samba/usershare
usershare max shares = 100
usershare allow guests = yes
usershare owner only = yes
wins support = no

Dengan memperhatikan permission dan ownership tadi, sekarang kita akan rubah setting defaultnya seperti ini dan simpen ke /etc/samba/smb.conf.

root@lutfi:~# cat /etc/samba/smb.conf

[global]
workgroup = DOMAINKU
security = share

usershare path = /var/lib/samba/usershares
usershare max shares = 100
usershare allow guests = yes
usershare owner only = yes
wins support = no
force group = "Domain Users"
force create mode = 0664
force directory mode = 0775


Oya, ada sedikit bug di sini. Pada bagian "usershare path" defaultnya adalah "/var/lib/samba/usershare". Ganti menjadi "/var/lib/samba/usershares" (hanya menambah satu hurus S saja).

OK. Restart aja service Samba. Dan ready untuk digunakan. Ingat, harus login dengan "sysadmin" dan silakan share folder. GUI untuk sharenya sesimple Windows. Klik kanan foldernya, lalu klik "Sharing options".

Umask penting juga

Client Linux sangat berkaitan dengan umask dalam melakukan penulisan/perubahan baek file dan directory di system. Secara default umask=022. Dan nilai itu akan menjadi masalah kalau menginginkan sharing folder dengan user laen. Baik user Linux laen (dengan NFS) ataupun dengan user Windows. Gue nggak mau jelasin panjang lebar hal ini, tapi ada baeknya dirubah menjadi umask=0002. Silakan rubah di file /etc/profile tentunya root/admistration yang bisa merubah ini.

Spread to all client

Ubah umasknya, copy /etc/samba/smb.conf filenya, install paketnya. Ready deh. Semua client bisa sharing dengan mudah. Tentunya, hanya untuk MIS/IT deh.

Goodluck pren