14 Januari 2009

Memirip Linux dengan M$ Windows

Beberapa user sempat tanya. Bisa nggak menunya di pindah ke bawah? Tentu saja bisa lah. Beberapa MIS juga ikutan-ikutan mencoba. Tapi gue beberapa kali kalau lagi support ke user, kadang jadi bingung sendiri. Ubuntu Linux jadi aneh tampilannya :-D

Waduh? Memiripkan Linux dengan tampilan Windows? Nggak deh. Makasih. Ide yang sangat nggak menarik buat gue. Kenapa? Karena gue buka tipe yang kasih solusi untuk memiripkan Linux dengan Windows. Gue secara profesional kasih solusi secara terintegrasi ke sistem. Jadi bukan sekedar tampilan. Yang akhirnya menyalahkan Linux karena nggak bisa ini itu seperti yang mereka biasa pake di Windows.

Oya. Itu bukan karena Linuxnya yang nggak bisa. Tapi menggunakan kebiasaan Windows di Linux. Tentu saja akan banyak bedanya lah. Karena Linux bukan Windows. Yang akhirnya... gagal deh. Atau kadang kerja jadi nggak efisien. Karena nggak tahu harus bagaimana menggunakan Linux dengan baek.

Sama seperti kebiasaan dari Ms.Office ke OpenOffice.org. Walau kebiasaan menggunakan Ms.Office akan sangat membantu menggunakan OpenOffice.org. Tapi menyamakan hal ini akan menyusahkan diri sendiri. Karena kedua software tersebut jelas beda. Kalau terlalu maksain cara-cara Ms.Office di OpenOffice.org, akhirnya loe akan bilang: OpenOffice.org susah dah ribet :-D

Padalah masalahnya bukan di OpenOffice.org !!! Masalahnya di otak yang ada di kepala tuh. Setiap menggunakan hal baru, cari tau dulu alias belajar dulu. Dari helpnya, dari internet, atau beli buku dan laennya. Pokoknya banyak sekali sumber. Bahkan software FOSS seperti OpenOffice.org menyertakan juga PDF file yang bisa diunduh gratis. So ...

Dengan ilmu baru yang loe dapat, loe akan canggih menggunakan OpenOffice.org. Sehingga loe bisa bilang, OpenOffice.org itu emang canggih. Cara boleh beda. Tapi hasilnya loe akan bisa buktikan. Nggak selalu harus pake cara M$ :-p

Demikian juga untuk Linux. Gue kasih solusi NFS untuk Linux client dan Samba untuk Windows client. Kenapa nggak pake Samba aja untuk semua client? Loh... kenapa juga gue harus pake Samba? NFS jelas-jelas lebih cepet dari Samba. Skali lagi bukan cara M$ tapi lebih ok tuh :-p

Solusi NFS ini terintegrasi sama client Ubuntu. Sehingga mereka bisa menyimpan data di server dengan sangat simple dan cepat. Pernah coba NFS blon??? Coba aja deh. And you will see :-p

Kemirip-miripan dengan tampilan Windows untuk client? Itu juga bukan hal yang menarik. Client perlu tau ini Linux. Bukan Windows. Jadi mereka harus terbiasa menggunakan tampilan Gnome (untungnya Ubuntu pake tampilan default Gnome). Sehingga kalau pinjem komputer Linux yang laen, mereka akan terbiasa juga dengan desktop yang sama.

So pren. Linux bukan hal jelek. Bahkan setahuku Gnome perlu dibanggakan. Belon lagi ada KDE, XFCE dan laen-laennya. Banyak pilihan di Linux. Dan itu semuanya menarik. Ngapain juga harus mirip Windows??

Eh .... Hari gini masih pake Windows??? Sama dong ma babe gue tuh.
PS: Alias kagak pernah mau berubah

6 komentar:

Anonim mengatakan...

yang jelas menurut saya desktop di linux belum bisa menangkap imajinasi user. oleh karena itu tidak usah menyalahkan user karena ketidakberhasilan developer... lebih baik kasih pengertian ke user.

Lutfi mengatakan...

Totally wrong !!!

Ini bukan masalah imaginasi. Sesuatu yang baru, lebih bagus dipelajari untuk dapat hasil yang maksimal. Memiripkan dengan Windows, bukanlah cara yang tepat untuk mempermudah user. Jadi... tugas IT juga untuk bikin mudah ke user. Bisa kasih training tuh simplenya ;-)

Disamping itu, desktop Linux bukan produk yang sepele. Palagi developer gagal?

Wah.. salah deh. Justru sebaliknya. Dengan tool2 yang menurut developer windows sangat simple, jutru developer Linux bisa menghasilkan desktop dan software-software bagus. Hebatnya: bisa running di low spect. Dah lebih HEBATnya lagi, bisa tunning di multi platform. Dan HUEBATTTTnya lagi, bisa running di Windows juga :-D

Mana bisa tuh Windows spt itu???

Anonim mengatakan...

Saya sangat setuju dengan bung Lutfi, orientasi kita seharusnya bukan pada memiripkan dua os yg sudah terang berbeda. Tetapi seharusnya bagaimana sebuah permasalahan bisa dipecahkan menggunakan linux. Linux adalah sebuah tools, sama seperti Windows. Kalau sebuah masalah bisa dipecahkan di windows dan di sistem linux sendiri tidak, itu baru permasalahan besar bagi developer linux. Sampai saat ini saya masih menggunakan Windows cuman karena 3 alasan saja. 1. Game baru (bajakan) keren2 di windows, 2. Developer Visual basic saya belum bisa jalan di linux and forever, 3. Suppoer hardware kadang masih kurang di linux, terutama modem internal dan printer yg saya gunakan. Keep going bung Lutfi, saya selalu memantau blog anda kok :)

Anonim mengatakan...

saya tukang komputer di sebuah kantor, bos ingin linux tp karyawan ngotot windows krn mereka bangga dengan bajakan. Upaya saya sbb : tiap hari duduk manis bersama karyawan sambil bantu selesaikan tugas2 mereka di openoffice, mengganti program2 yg dibuat di Visual Basic dengan program gambas, yg dibuat Visual Foxpro ganti Java, bagi karyawan yg suka main game harap bawa PS ndiri, hardware ga ke detec? he he he di gudang banyak hardware, tinggal ganti yg bisa kedetec, tp ini jarang terjadi kecuali hardware nya rusak, semua beres, kesimpulan nya klo harddisk bisa di format tp klo pikiran org cuma bisa di repair :)

rizky mengatakan...

wah benar bang lutfi, desktop linux lebih baik, namun merubah kebiasaan itu ckp sulit tapi apa salahnya kl kita coba sedikit demi sedikit

chris mengatakan...

klo kata orang tidak kenal maka tak sayang..silahkan dicoba dan dirasakan dlu betapa hebatnya linux..:D
baru akan tw linux itu seperti apa..:Djust my opinion..:)